Dana Pensiun Bukit Asam

Artikel Investasi

Devisa Agustus 2026 Tetap Solid, IHSG Menguat: Akankah Pasar Indonesia Menguat?

1. Pasar Modal dan Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

IHSG tutup di lebel 6.636,48  pada penutupan pekan pertama bulan September 2026. Dalam sepekan, kinerja IHSG tercatat menguat sebesar 1,82%. Sentimen yang mempengaruhi IHSG pada pekan lalu disebabkan oleh sentimen dari dalam dan luar negeri. Dari segi dalam negeri, investor asing terus mengakumulasi saham lokal, khususnya pada big banks. Hal ini diperkuat oleh Rupiah yang mulai stabil beberapa pekan terakhir.

Selain itu, Indeks Obligasi tercatat bergerak melemah pada pekan lalu, dimana indeks obligasi pemerintah mencatakan penurunan terdalam sebesar 0,16%. Yield SBN Indonesia tenor 10 tahun pada pekan lalu tercatat bergerak naik ke level 7,12%.

Edvisor.id  bi.go.id

2. Ekonomi Domestik

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tetap terjaga sebesar 146,5 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi akhir Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS. Perkembangan posisi cadangan devisa Agustus 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi. Posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik. Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

bi.go.id

3. Ekonomi Global

Ketegangan AS–Iran menjadi pemicu utama volatilitas. Pada 31 Agustus, eskalasi konflik AS–Iran kembali menekan pasar. Harga Brent naik sekitar 2,7% ke US$90,49/barel, sementara WTI naik 2,8% ke US$85,76. Kenaikan minyak memunculkan kekhawatiran baru bahwa inflasi akan kembali tinggi dan membuat bank sentral lebih sulit menurunkan suku bunga. Komentar Ketua Fed Kevin Warsh dan meningkatnya tekanan inflasi membuat probabilitas kenaikan suku bunga AS pada September meningkat tajam. Pada 31 Agustus, pasar memperkirakan peluang kenaikan sekitar 65%, dibanding sekitar 35% sebelumnya. Fokus kemudian bergeser ke data tenaga kerja dan inflasi AS.

reuters.com

Memasuki September 2026, pasar Indonesia masih memiliki sejumlah katalis positif, mulai dari cadangan devisa yang solid, stabilisasi Rupiah, hingga berlanjutnya akumulasi investor asing di pasar saham. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko eksternal, terutama ketegangan geopolitik AS–Iran, pergerakan harga minyak, serta arah kebijakan suku bunga The Fed. Dengan kondisi fundamental domestik yang relatif terjaga, peluang penguatan pasar masih terbuka, meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Oleh karena itu, investor disarankan tetap selektif, memperhatikan perkembangan makroekonomi global, serta menjaga strategi investasi sesuai dengan profil risiko masing-masing.